Prinsip Dasar Manajemen Resiko

Prinsip Dasar Manajemen Resiko
Prinsip Dasar Manajemen Resiko

Prinsip Dasar Manajemen Resiko

Prinsip Dasar Manajemen Resiko
Prinsip Dasar Manajemen Resiko

Ada sebuah gambar menarik pada salah satu literatur tentang Manajemen Risiko.

Digambarkan sebuah pohon apel yang tumbuh persis di bibir jurang. Pada sisi dalam jurang tampak sebutir apel berukuran kecil berwarna hijau kemerahan, sedangkan pada sisi luar jurang tampak sebutir apel yang lain. Warnanya merah ranum, ukurannya dua kali apel yang pertama. Di bawah gambar tersebut tertulis sebuah kalimat tanya, “Yang mana yang akan anda petik?”Gambar tersebut secara tepat melukiskan bahwa seringkali, bahkan mungkin selalu, keinginan akan sesuatu yang lebih baik (lebih menguntungkan) mengandung risiko yang lebih besar. Tidak terkecuali di dalam menjalankan bisnis.

 

Setiap keputusan bisnis, secara sadar atau tidak sadar, adalah

juga suatu keputusan mengenai risiko apa yang akan dan siap dihadapi oleh pengambil keputusan.  Risiko, khususnya di dalam bisnis, tidaklah selalu mewakili sesuatu yang buruk. Kenyataannya Risiko bisa mengandung di dalamnya suatu peluang yang sangat besar bagi mereka yang mampu mengelolanya dengan baik. Hal itu mungkin yang melatarbelakangi mengapa kalimat “Saya akan ambil Risiko tersebut,” dalam bahasa Inggris lebih banyak dinyatakan dengan, I will take that chance.


Kesadaran akan memahami Risiko dengan baik sebagai suatu bagian yang tidak terpisahkan dari upaya untuk mengoptimalkan keuntungan inilah yang menjadi dasar terbentuknya konsep Manajemen Risiko yang akhir-akhir ini semakin mengemuka di dalam dunia bisnis, khususnya di industri keuangan (perbankan dan lembaga keuangan lainnya).


Suatu Pendekatan Baru

Secara sederhana Risiko dapat diartikan sebagai : tingkat ketidakpastian akan terjadinya sesuatu/tidak terwujudnya sesuatu tujuan, pada suatu kurun/periode tertentu. Dalam konteks bisnis, khususnya di bank/lembaga keuangan, apa yang disebut sebagai tujuan umumnya berkisar pada parameter-parameter earning/pendapatan, kualitas portofolio, dan tingkat pengembalian dana yang diinvestasikan. 


Sebelum munculnya konsep Manajemen Risiko, parameter-parameter tersebut dipandang sebagai satu-satunya parameter dalam mengukur keberhasilan menjalankan bisnis. You earn much, you do well, tanpa memperhatikan seberapa besar Risiko yang dihadapi dalam proses mencapai parameter tersebut. Munculnya konsep Manajemen Risiko kemudian menjadi simbol perubahan cara pendekatan, khususnya oleh para investor, dari sekedar menghitung earning/pendapatan, dll., menjadi lebih memfokuskan diri pada kualitas pendapatan (quality earning), dll.. 


Secara kelembagaan konsep Manajemen Risiko

Memang belum dikukuhkan oleh Bank for International Settlement (BIS) sebagai suatu standar dalam mengevaluasi bank/lembaga keuangan. Namun, BIS merekomendasikan kepada Otoritas Moneter lokal untuk mengkaji kemungkinan ditetapkannya konsep Manajemen Risiko sebagai sesuatu yang harus diterapkan oleh bank/lembaga keuangan sebagai bagian dari komponen yang akan dievaluasi dalam rangka menentukan tingkat kehati-hatian bank/lembaga keuangan. Di samping itu, dalam prakteknya, bank-bank besar telah mulai menerapkan konsep ini didalam aktivitas keseharian mereka, bahkan merasa perlu untuk menyampaikan status tingkat risiko yang dihadapi, didalam laporan keuangan tahunan mereka.

Prinsip-prinsip Dasar Manajemen Risiko Manajemen Risiko pada dasarnya

adalah proses menyeluruh yang dilengkapi dengan alat, teknik, dan sains yang diperlukan untuk mengenali, mengukur, dan mengelola risiko secara lebih transparan. Sebagai sebuah proses menyeluruh, Manajemen Risiko menyentuh hampir setiap aspek aktivitas sebuah entitas bisnis, mulai dari proses pengambilan keputusan untuk menginvestasikan sejumlah uang, sampai pada keputusan untuk menerima seorang karyawan baru. 


Berdasarkan konsep dasar di atas salah satu paradigma penting yang ditawarkan oleh Manajemen Risiko di dalam mengelola risiko adalah bahwa risiko dapat didekati dengan menggunakan suatu kerangka pikir yang sangat rasional. Hal ini dimungkinkan berkat berkembangnya teori probabilitas dan statistik yang memungkinkan kita memiliki alat untuk memilah, meng-quantify dan mengukur risiko. Asumsi yang mendasari hal ini adalah bahwa statistik mengandung didalamnya “ingatan numerik” (numerical memory) yang bertitik tolak dari hal itu kita dapat membaca suatu alur tertentu yang memungkinkan kita memproyeksikan kemungkinan-kemungkinan yang akan kita hadapi di masa mendatang.  Ciri Ciri Teks Laporan Hasil Observasi


Bagaimanapun, Manajemen Risiko tetaplah hanya alat bantu

bagi manajemen dalam proses pengambilan keputusan. Manajemen Risiko bukanlah sekedar angka statistik, teknik ataupun teknologi. Wujud penerapan terbaik Manajemen Risiko merupakan suatu proses membangun kesadaran tentang Risiko di seluruh komponen organisasi, suatu proses pendidikan bagaimana menggunakan alat dan teknik yang disediakan oleh Manajemen Risiko tanpa harus dikendalikan olehnya, dan mengembangkan naluri pengambilan keputusan yang kuat (khususnya terhadap risiko).


Bertitik tolak dari hal-hal di atas, terdapat beberapa prinsip yang harus dipatuhi di dalam mengembangkan dan menerapkan suatu model Manajemen Risiko. Prinsip-prinsip tersebut adalah :


1. Transparansi
Prinsip ini mensyaratkan agar seluruh potensi risiko yang ada pada suatu aktivitas, khususnya transaksi, dibeberkan secara terbuka. Risiko yang tersembunyi/disembunyikan akan menjadi sumber permasalahan terbesar dan, per definisi, tidak akan dapat dikelola dengan baik.
2. Pengukuran yang Akurat
Prinsip ini mewakili sisi sains dari konsep Manajemen Risiko, dan mensyaratkan investasi berkesinambungan untuk berbagai teknik dan alat yang akan digunakan sebagai syarat dari proses Manajemen Risiko yang kuat.
3. Informasi Berkualitas yang Tepat Waktu
Prinsip ini akan turut menentukan akurasi pengukuran dan kualitas keputusan yang diambil. Sebaliknya tidak terpenuhinya prinsip ini bisa membawa manajemen pada suatu keputusan yang berisiko fatal.
4. Diversifikasi
Sistem Manajemen Risiko yang baik menempatkan konsep diversifikasi sebagai sesuatu yang penting untuk dicermati. Hal ini menuntut pola pemantauan yang konstan dan konsisten. Asumsinya adalah bahwa konsentrasi (Risiko) dapat muncul setiap saat seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi di dunia.
5. Independensi
Berdasarkan prinsip independensi, keberadaan suatu kelompok Manajemen Risiko yang independen makin dianggap sebagai suatu keharusan. Prinsip ini tidak sekedar berbicara tentang kewenangan dan level tanggung jawab dari kelompok Manajemen Risiko dan kelompok/unit lainnya dalam perusahaan, melainkan juga tentang tentang visi perusahaan dan kualitas interrelasi antara kelompok Manajemen Risiko dengan kelompok/unit lainnya, dan juga antar kelompok/unit yang melaksanakan transaksi dengan mengambil risiko tertentu.