Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional

Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional
Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional

Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional

Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional
Paradigma Baru Teknologi Menuju Kebangkitan Nasional
Analisis prediktif yang dikemukakan oleh Negroponte dalam bukunya Being Digital: 1998, didasari oleh cepatnya perkembangan teknologi di abad XXI ini. Teknologi akan membuat segalanya menjadi mudah, cepat dan praktis. Segalanya akan menjadi simpel (tidak rumit dan praktis). Kemajuan teknologi tidak dapat kita tolak, bahkan suatu masyarakat atau negara yang tidak welcome dengan teknologi akan menyebabkan ketinggalan jaman dan informasi.
Memperingati 107 tahun Kebangkitan Nasional

Setiap orang akan bangkit tanpa melihat latar belakang dan profesinya untuk belajar dan mengenal teknologi. Bahkan dari anak-anak dan orang tua lanjut usia membuka diri datangnya era teknologi. Minimal mereka sudah menggunakan ponselnya untuk berkomunikasi dan mengirim pesan. Kebutuhan ini akan bertambah mengingat teknologi adalah pintu gerbang menuju dunia yang tanpa batas (borderless world) dan pemenuhan kebutuhan yang singkat dan mudah. Maka, sudah saatnya kita ucapkan selamat datang teknologi, selamat datang era baru masyarakat informasi masyarakat yang makin digital.

Prediksi Negroponte di atas, sudah terbukti dan akan terus merambah pada bidang lainnya seperti pendidikan, bisnis, hiburan, pemerintahan, dan sebagainya. Bahkan kita dapat mengelilingi bumi ini dengan masyarakat jaringan sebagaimana diungkapkan oleh Kevin Kelly dalam New Rules for the New Economy.
Para futurolog dunia seperti Peter Drucker, John Naisbitt, Kenichi Ohmae, dan Robert Reich dalam Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos, 2003) telah memprediksi adanya kecenderungan baru yaitu pergeseran paradigma dari masyarakat industri ke masyarakat layanan atau service society. Hal ini harus disadari oleh bangsa kita apabila kita akan mengambil peran sebagai subjek di negara sendiri dalam menghadapi abad teknologi. Secara individu, kita dituntut menyiapkan diri sebagai anggota masyarakat global informasi. Menyiapkan secara mental dan skillmenghadapi perubahan teknologi sesuai dengan profesi dan peran masing-masing. Teknologi memang bukan tujuan, namun sebagai sarana penting untuk memenuhi kebutuhan dengan mudah dan praktis.
Ambil contoh sebagai pelajar. Gordon Dryden & Dr. Jeannette Vos (2003) telah menyimpulkan bahwa kekuatan yang paling mendasar bagi perubahan dalam pendidikan adalah para siswa itu sendiri. Berikan kepada anak-anak alat-alat yang mereka butuhkan (seperti laptop, smartphone) dan mereka akan menjadi sumber petunjuk yang penting tentang cara membuat sekolah menjadi relevan dan efektif. Walaupun demikian, menurut saya, hal ini belum cukup mengingat masih adanya kesenjangan fasilitas pendidikan di Indonesia. Meskipun demikian, siswa kita harus disadarkan dan dipahamkan bahwa individu siswa adalah kunci penting perubahan pendidikan.
Dunia perdagangan juga telah memasuki era digital dengan makin berkembangnya e commerce dan toko online. Bahkan pembayaran maupun pajak dapat dilakukan secara online. Ini membuktikan kemudahan dalam bertransaksi yang akan menciptakan bentuk-bentuk organisasi baru yang mengubah informasi dan layanan sesuai dengan permintaan.
Contoh lain adalah perusahaan telekomunikasi. Perusahaan telekomunikasi harus mengubah mindset bahwa visinya adalah melayani konsumen dan masyarakat seiring dengan pergeseran menjadi masyarakat layanan. Apa yang diperlukan konsumen dan masyarakat harus cepat dilayani dengan inovasi dari perusahaan. Bahkan menurut Don Tapscott dalam Blueprint to the Digital Economy, “setiap perusahaan akan menjadi perusahaan ‘pendidikan’ atau ia akan bangkrut”. ‘