LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri

LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri
LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri

LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri

LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri
LIPI Tarik Peneliti Diaspora di Luar Negeri

Di era revolusi industri 4.0 ini, para peneliti memang dituntut untuk kreatif

dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Untuk itu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pun sudah tiga tahun terakhir menarik para diaspora atau ilmuwan yang belajar di luar negeri untuk kembali ke Indonesia.

LIPI ingin agar setiap tahunnya bisa menarik 100 diaspora yang telah merampungkan kuliah S-3 di luar negeri. Namun hingga saat ini, baru LIPI yang memberikan peluang itu kepada 30 diaspora yang mayoritas berkiprah di bidang ilmu dasar dan hard science.

Dalam penarikan para diaspora ini, LIPI mengacu pada regulasi Menteri Pendayagunaan Apatur Negara

dan Reformasi Birokrasi. Namun memang dalam perekrutan diaspora masih ditemui kendala. Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko memperkirakan, masih ada ribuan diaspora Indonesia di luar negeri.

Salah satu diaspora Indonesia yang telah bergabung di LIPI adalah Pudji Rahmadi. Ia mengaku kembali ke Indonesia karena dirinya memiliki niat besar untuk melakukan penelitian di bidang oseanografi. Peneliti oseanografi LIPI ini telah merangkum berbagai hasil penerbitan jurnal dan melakukan riset mini terkait kekayaan laut Indonesia.

“Wilayah kita 75%-nya adalah lautan. Potensi ini sangat luar biasa. Kalau saya tetap di negara orang,

saya tentu tidak bisa memiliki kesempatan untuk melakukan riset kelautan ini. Peneliti luar negeri saja berbondong-bondong datang ke Indonesia,” paparnya ketika ditemui Beritasatu di Jakarta, Senin (11/3).

Ia menyebut potensi kekayaan laut Indonesia bisa mencapai Rp 1.768 triliun atau sekitar 95% dari total Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia di tahun 2018. Nilai potensi itu maksimal jika dimanfaatkan 100% oleh Indonesia. Namun sayangnya, saat ini baru termanfaatkan sekitar 30%-40% saja.

Baginya sains penting bagi kehidupan manusia. Pudji berpandangan, setiap kehidupan manusia erat kaitannya dengan dunia sains. Dalam setiap aspek kehidupan manusia dimulai dari hasil penelitian, seperti penemuan lampu, listrik, ponsel dan lain sebagainya.

 

Sumber :

https://mhs.blog.ui.ac.id/lili.ariyanti/2018/08/12/sejarah-masjid-agung-sang-cipta-rasa/