Investasi Pendidikan Menjadi Kunci Majunya Sumber Daya Manusia RI

Investasi Pendidikan Menjadi Kunci Majunya Sumber Daya Manusia RI – World Bank sudah merilis indeks modal insan atau human capital index (HCI). Dalam indeks tersebut Indonesia melulu sebesar 0,53 dari skala satu.

Ini mengakibatkan Indonesia terdapat di peringkat 87 dari 187 negara, atau terbelakang dari Singapura di peringkat 1, Vietnam 48, Malaysia 55, dan Thailand 65.

Ekonom senior Economic Research Institute for ASEAN and East Asia (ERIA), Fauziah Zen, menjelaskan, dari tiga indikator indeks yang merangkum tingkat pendapatan, kesehatan, dan pendidikan insan tersebut menciptakan Indonesia terbelakang, terlebih tidak fokusnya pemerintah investasi di pendidikan.

“Indonesia tersebut kita tahu punya problem di education level. Kalau lihat seluruh indikator yang ada, contohnya tingkat literasi, lihat saja mengapa hoaks paling merajalela, sebab tingkat education dalam artian kualitas jelek,” kata Fauziah saat didatangi di kantornya, Jakarta.

Dia menjelaskan, urusan tersebut menjadi penyebab lantaran dua indikator lainnya di Indonesia berlangsung lurus cocok dengan arah tujuannya. Seperti tingkat penghasilan masyarakat yang dikatakannya terus meningkat, dampak tingkat upah yang ditentukan pemerintah dijamin selalu naik untuk menyokong pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, berhubungan tingkat kesehatan, pun terus menjadi perhatian pemerintah melalui sekian banyak program kepandaian kesehatannya, laksana misalnya melewati BPJS Kesehatan. Meskipun ketika ini masih terkendala dampak sistem manajemennya yang belum stabil, sampai-sampai masih merasakan defisit.

“Berdasarkan keterangan dari saya sih, saya enggak cemas BPJS Kesehatan ini defisit. Karena tersebut momentum orang melihat, oh anda enggak dapat kayak gini terus sebab enggak sustain, mesti dibenerin. Itu jadi momentum menurut keterangan dari saya, sebab kita tersebut di-set di undang-undang yah bahwa tersebut wajib. Jadi nanti kita tentu ada arah perbaikan on the right track,” ungkapnya.

Namun begitu, dikatakannya, untuk edukasi di Indonesia belum terdapat perhatian eksklusif dari pemerintah yang mengarahkannya sebagai investasi pemerintah terhadap rakyatnya.

Misalkan, katanya program edukasi gratis untuk masyarakat kurang mampu tersebut tidak didukung oleh suplemen edukasi lainnya yang mendorong masyarakat guna menyekolahkan anaknya.

“Saya pernah usul dulu guna satu hari di sekolah itu diserahkan makanan cuma-cuma yang bergizi. Itu kan di samping mendidik anak pun menyehatkannya, dan menciptakan orang tuanya bukan lagi harus memikirkan bagaimana biaya anak dan makannya ketika di sekolah,” tuturnya.

“Education sampai kini saya belum nemu menteri, semenjak SBY tersebut menterinya enggak punya visi yah. Lihat saja radikalisme jadi problem dapat berkembang pesat ya, sebab visi edukasi kita tersebut beban yang besar segala macam untuk anak sekolah,” ujarnya.

Karena itu, dia menegaskan, bila edukasi tersebut didorong terus oleh pemerintah dengan sekian banyak kebijakan yang mendorong masyarakatnya guna menyekolahkan anaknya, maka di samping HCI Indonesia meningkat, produktivitas dan perkembangan ekonomi Indonesia bakal terus terbawa.

“Kayak di China mereka hingga kriminalkan bila orangtuanya enggak inginkan kirim anaknya di umur wajib sekolah. Misalnya enam atau sembilan tahun kesatu. Jadi mereka investasi di situ dan kini dia merasakan hasilnya,” ujarnya.

Baca diĀ www.bahasainggris.co.id