Inilah 5 Alasan Mengapa Denmark Menjadi Acuan Sistem Pendidikan Dunia

Inilah 5 Alasan Mengapa Denmark Menjadi Acuan Sistem Pendidikan Dunia

Setelah mendatangi Jerman, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ( Mendikbud) Muhadjir Effendy berpeluang mengunjungi Denmark pada Selasa (4/9/2018). Mendikbud beserta jajaran memberi perhatian pada keberhasilan Denmark menjadi negara sukses menempati posisi ke-5 tertinggi dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia) di dunia.

IPM atau Human Development Index (HDI) ialah pengukuran komparasi dari asa hidup, melek huruf, edukasi dan standar hidup untuk seluruh negara semua dunia.

Sebelum bertemu Menteri Kebudayaan Denmark, Mendikbud menyempatkan berangjangsana ke Lego Education di Billund, selama 400 km dari Kopenhagen. Lembaga yang di bina oleh perusahaan mainan anak-anak berhasil mendunia tersebut adalahrujukan menarik untuk pengembangan edukasi yang memanfaatkan teknologi digital.

Apa yang menciptakan Denmark menjadi di antara rujukan edukasi dunia? Dilansir dari laman sah Kemendikbud, inilah 5 dalil Denmark patut dijadikan acuan edukasi dunia:

1. Bermain seraya belajar

Dalam peluang tersebut, Mendikbud menerima deskripsi dan menyaksikan langsung bagaimana siswa disuruh berfikir kreatif, sistematis, dan dapat mengembangkan keterampilan individu.

Mendikbud terkesan dengan kegiatan bermain seraya belajar yang dilaksanakan anak-anak di sana. Bagaimana anak-anak bermain seraya belajar, bekerja secara kumpulan dengan kompak dan kreatif, lalu memungut makanan dan mencuci sisa makanan secara mandiri.

“Walaupun pelajaran pelajarannya serius dan cukup berat, tetapi dilaksanakan dengan paling menyenangkan. Ini akan menyusun karakter yang baik,” ujarnya.

2. Gabungkan kurikulum dan sumberdaya digital

Presiden Lego Education Esben Staerk menerangkan, pihaknya secara terus menerus mengerjakan kajian dan inovasi pembelajaran guna anak-anak umur 3 sampai 16 tahun.

Fokusnya, meningkatkan keterampilan siswa dalam bidang sains, teknologi, kiat dan matematika. “Kami merancang sumber daya menurut sistem kursus dan menggabungkan dengan kurikulum dan sumberdaya digital,” jelas Esben.

3. Sistem edukasi formal dan non formal

Mendikbud menyinggung penggabungan sistem edukasi formal dan nonformal (kursus) di Denmark sebagai sesuatu yang menarik. Dengan demikian, tidak terdapat kesan diskriminasi bahwa edukasi nonformal dinomor duakan, bahkan menjadi penyelesaian menjawab keperluan keterampilan tenaga kerja.

Sistem tersebut pun tercermin dari www.pelajaran.id  trafik pada hari kedua di Technical Education Copenhagen (TEC) dan Niels Brock Copenhagen Bussiness College. Demikian pula keterangan Sekretaris Permanen Menteri Pendidikan Denmark Sharon Hartman yang menegaskan tidak terdapat pemisahan sistem edukasi formal dan informal.

4. Kolaborasi dengan korporasi

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Didik Suhardi mengucapkan bahwa dalam masa-masa dekat, Indonesia bakal segera mengantarkan instruktur/pelatih guru guna magang di lembaga-lembaga pelatihan ternama di Denmark tersebut.

“TEC merupakan misal yang paling baik bagaimana edukasi formal, kursus dan korporasi dapat bekerjasama menjawab kendala dunia industri. Dia merupakan campuran dari SMK-SMK dan lembaga kursus kecil yang lantas menjadi rujukan edukasi vokasi yang paling baik,” ungkap Didik Suhardi usai mengekor paparan di TEC.

5. Mempertahankan nilai budaya

Muhadjir mengapresiasi keberhasilan Denmark dalam menjaga nilai-nilai budaya. Hal ini tampak dari teknik pemerintah mengawal kelestarian arsitektur bangunan-bangunan tua yang bertahan sampai saat ini.

Di samping itu, sistem edukasi dan etos kerja masyarakatnya pun mendukung majunya kemajuan terlihat dari teknik hidup masyarakat sehari-hari.